Kegiatan Latihan Berpidato tanpa teks ini menjadi agenda rutin yang diikuti oleh siswa dari berbagai tingkatan kelas. Alih-alih menghafal kalimat demi kalimat yang tertulis di kertas, siswa diajak untuk memahami poin-poin utama dari sebuah topik dan menyampaikannya dengan gaya bahasa mereka sendiri. Pendekatan ini dianggap jauh lebih efektif dalam membangun koneksi dengan pendengar karena pembicara dapat menjaga kontak mata secara terus-menerus. Selain itu, pidato yang dilakukan tanpa alat bantu kertas mendorong otak untuk bekerja lebih kreatif dalam menyusun struktur kalimat secara instan.
Pihak SMPN 88 Jakarta meyakini bahwa kemampuan komunikasi verbal adalah salah satu kecerdasan emosional yang paling vital di abad ke-21. Dalam setiap sesi latihan, siswa diberikan tema-tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka, mulai dari isu lingkungan, persahabatan, hingga impian masa depan. Dengan membicarakan hal-hal yang mereka kuasai, beban mental untuk terlihat sempurna perlahan berkurang, berganti dengan keinginan untuk berbagi perspektif yang jujur. Guru bertindak sebagai fasilitator yang memberikan umpan balik konstruktif terkait intonasi, gestur tubuh, dan kejelasan pesan.
Tujuan utama dari program ini adalah untuk melatih mental agar lebih tangguh dalam menghadapi tekanan sosial. Berada di bawah sorot mata teman sebaya dan guru memerlukan keberanian yang besar. Dengan sering melakukan praktik ini, rasa takut akan penilaian orang lain (fear of judgment) dapat diminimalisir secara bertahap. Siswa belajar bahwa membuat kesalahan di atas panggung bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses belajar. Mentalitas “berani mencoba” inilah yang menjadi target utama pembentukan karakter di sekolah ini.
Keuntungan lain bagi siswa yang terbiasa berbicara tanpa teks adalah meningkatnya kemampuan berpikir kritis. Saat berpidato secara spontan, seseorang dituntut untuk menghubungkan satu ide dengan ide lainnya secara logis dalam waktu yang sangat singkat. Proses kognitif yang cepat ini melatih ketajaman otak dalam menganalisis situasi dan merespons pertanyaan secara taktis. Keterampilan ini tidak hanya berguna saat berpidato, tetapi juga sangat bermanfaat saat mengikuti diskusi kelompok di kelas atau sesi tanya jawab dalam presentasi tugas.