Lingkungan sekolah yang bersih, asri, dan hijau merupakan dambaan bagi setiap institusi pendidikan. Di SMPN 88 Jakarta, konsep lingkungan sehat tidak lagi hanya sekadar menyapu halaman, namun bertransformasi menjadi aksi nyata melalui program Jumat Bersih dengan fokus utama pada penanaman tanaman obat keluarga (TOGA). Kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran aplikatif bagi siswa tentang bagaimana mengelola lingkungan sekaligus memahami manfaat keanekaragaman hayati yang ada di sekitar mereka.
Pagi itu, suasana sekolah tampak berbeda. Siswa tidak hanya membawa alat kebersihan, tetapi juga membawa bibit jahe, kunyit, temulawak, hingga lidah buaya. Mereka secara berkelompok menata lahan sempit di sudut sekolah menjadi kebun herbal yang tertata rapi. Proses ini mengajarkan siswa tentang tanggung jawab dan kesabaran. Menanam bukan hanya soal memasukkan bibit ke dalam tanah, tetapi bagaimana merawatnya agar tumbuh dengan baik, yang dianalogikan sebagai proses pembentukan karakter siswa itu sendiri.
Melalui kegiatan ini, siswa mendapatkan edukasi tentang fungsi praktis tanaman obat. Misalnya, mereka belajar bahwa jahe dan kunyit dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh, sementara lidah buaya memiliki manfaat untuk kesehatan kulit. Pengetahuan ini sangat berharga karena di era modern ini, banyak orang cenderung bergantung pada obat-obatan kimia tanpa mempertimbangkan alternatif alami yang sebenarnya ada di halaman rumah sendiri. Sekolah ingin menanamkan pola pikir hidup sehat yang berbasis pada kearifan lokal.
Selain manfaat kesehatan, aspek kebersihan dan keasrian lingkungan sekolah menjadi nilai tambah yang signifikan. Dengan adanya tanaman obat yang tertata, area sekolah menjadi lebih hijau dan nyaman untuk kegiatan belajar mengajar. Udara menjadi lebih segar karena produksi oksigen yang dihasilkan dari vegetasi tersebut. Siswa merasa lebih betah berada di lingkungan sekolah yang hijau, yang secara psikologis membantu menurunkan tingkat stres saat menghadapi jam pelajaran yang padat.
Program ini juga mempererat solidaritas antarsiswa. Mereka bekerja sama menggemburkan tanah, memberikan pupuk organik, dan menyiram tanaman secara bergantian. Kerja sama dalam kelompok kecil ini menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap sekolah. Mereka menyadari bahwa menjaga sekolah adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas petugas kebersihan.