Di era digital yang serba cepat, ketergantungan pada perangkat elektronik telah menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan, terutama bagi remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan. SMPN 88 Jakarta mengambil langkah proaktif dengan meluncurkan program edukasi batasan waktu layar untuk membimbing para siswa agar lebih bijak dalam menggunakan teknologi. Sekolah menyadari bahwa paparan layar yang berlebihan, baik untuk media sosial maupun permainan daring, memiliki korelasi langsung dengan gangguan konsentrasi, pola tidur yang buruk, hingga peningkatan risiko kecemasan pada siswa.
Program ini diawali dengan memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi struktur otak dan kesehatan emosional. Dalam sesi edukasi batasan waktu layar, para ahli psikologi atau guru bimbingan konseling di SMPN 88 Jakarta menjelaskan fenomena “FOMO” (Fear of Missing Out) yang sering membuat siswa merasa harus selalu terhubung dengan dunia maya. Dengan memahami mekanisme ini, siswa diharapkan mulai sadar untuk mengambil jeda dari layar dan kembali berinteraksi secara fisik dengan lingkungan di sekitarnya.
Langkah praktis yang diterapkan di SMPN 88 Jakarta mencakup penetapan zona bebas gawai di area tertentu di lingkungan sekolah. Selama jam istirahat, siswa didorong untuk bermain permainan tradisional, berolahraga, atau sekadar berbincang langsung dengan teman-teman mereka tanpa gangguan notifikasi. Melalui edukasi batasan waktu layar yang konsisten, sekolah ingin menunjukkan bahwa kebahagiaan nyata bisa ditemukan di luar layar ponsel. Aktivitas fisik dan interaksi sosial tatap muka terbukti jauh lebih efektif dalam menjaga keseimbangan hormon yang mengatur kebahagiaan dan ketenangan pikiran.
Selain di sekolah, SMPN 88 Jakarta juga bekerja sama dengan orang tua untuk menerapkan aturan serupa di rumah. Orang tua diberikan panduan mengenai cara memantau penggunaan perangkat digital anak tanpa harus bersikap otoriter. Strategi edukasi batasan waktu layar ini melibatkan negosiasi yang sehat antara orang tua dan anak, di mana anak diberikan tanggung jawab untuk mengatur waktu mereka sendiri berdasarkan prioritas yang telah disepakati. Kerjasama ini bertujuan agar kebiasaan baik yang dibangun di sekolah tetap berlanjut dalam kehidupan sehari-hari siswa di rumah.